Jumat, 04 April 2014
Sabtu, 21 September 2013
Aleks Komang: Film Inspiratif buat Masyarakat Donggala
DONGGALA-Aktor film nasional Aleks Komang (53
tahun) menyatakan kebanggaan terhadap
masyarakat Donggala, terutama guru-guru sekolah yang menghadiri acara
nonton bareng film inspiratif di aula Kantor Bupati Donggala, Sabtu (21/9)
akhir pekan lalu. Nonton bareng tersebut sebagai rangkaian upaya persemaian nilai
budaya sebagai penguatan karakter budaya yang diprogramkan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan RI.
“Sambutan
masyarakat kota Donggala terhadap acara ini patut diapresiasi sebagai wujud
kepedulian dan rasa ingin tahu yang cukup besar, sehingga nantinya menjadi
inspirasi dalam membentuk karakter anak didiknya. Dalam pemutaran film yang
cukup panjang ini seluruh peserta menonton sampai acara berakhir dan mereka
sangat reponsif, sehingga saya sangat berbangga dan senang terhadap masyarakat
Donggala yang sangat antusias menyambut film inspiratif” ungkap Aleks Komang
pemeran utama film yang ditampilkan.
Produser Edwin Nazir bersama Aleks Komang saat menemui Wabub Donggala, Aly Lasamaulu di ruang kerjanya, Sabtu (21/9) 2013
Cuma
saja kata Aleks Komang, sayang pelaksanaannya hanya sehari sehingga tidak cukup
untuk lebih dekat dan berdialog. Ke depan program ini mestinya dapat pula
dirangkaikan dengan kegiatan workshop bagi guru-guru maupun peminat seni yang
dapat menginspirasi dalam penanaman nilai-nilai budaya yang berkarakter. Namun
demikian sebagai langkah awal, acara persemaian nilai budaya untuk memperkuat
karakter bangsa ini telah memicu rasa kebanggaan dan nasionalisme. Sementara
itu Wakil Bupati Donggala, Aly Lasamaulu saat membuka acara menyatakan terima
kasih terhadap Aleks Komang dan pihak Kemendikbud RI yang telah memilih
Donggala sebagai satu-satunya kabupaten di Sulawesi Tengah yang dipilih untuk
nonton bareng film inspiratif. Tentunya hal tersebut menjadi kebanggaan
tersendiri sebagai kabupaten pilihan yang menurut Aly tidak lepas dari sejumlah
prestasi tingkat nasional yang diraih sehingga pemerintah pusat menjadikan
Donggala tujuan kegiatan nonton bareng. Selain Donggala yang jadi pilihan untuk
Pulau Sulawesi yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Goa, Sulsel.
Acara
nonton bareng di Donggala dibagi dalam tiga sesi, pertama khusus guru-guru
sekolah, kedua pelajar dan ketiga masyarakat umum. Film yang ditampilkan 9 Summers 10 Autumns yang dibintangi
Aleks Komang dan Ihsan Idol dan film Garud
di Dadaku 2 yang dibintangi Emir Mahira, Rio Dewanto, Aldo Tansani dan
Monica Sayangbati. Film tersebut betul-betul memberi spirit keteladanan dan
sebangat dalam bekerja menuju keberhasilan sesuai karakter bangsa sehingga
menjadi pilihan pihak kemendikbud untuk dibawa keliling Indonesia. Paling
mendapat sambutan penonton adalah film 9 Summers 10 Autumns karena sang bintang
Aleks Komang bersama produser Edwin Nazir (Angka Fortuna Sinema) hadir di
tengah penonton melakukan dialog interaktif. “Ini merupakan film pertama yang
saya buat dengan mengangkat dari sebuah buku dengan judul yang saya ditulis
Iwan Setiawan dari kota Batu, Malang Jawa Timur. Sebuah kisah nyata yang
betul-betul memberi inspirasi bagi siapa saja, sehingga saya memilihnya dan
mengajak Aleks Komang untuk menjadi bintangnya dan hasilnya mendapat sambutan
yang baik,” jelas Edwin Nazir pada sejumlah wartawan.
9
Summers 10 Autumns berkisah tentang Iwan Setiawan (diperankan Ihsan Idol) sosok
seorang anak hingga remaja laki-laki di antara empat saudaranya yang perempuan
hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya (Aleks Komang) bekerja sebagai sopir angkot
tua begitu risauh terhadap nasib anak-anaknya di masa depan, sehingga dalam
mendidik begitu keras terutama pada Iwan yang dipanggilnya Lanang satu-satunya
perempuan. Dalam perjalanan hidup kemudian Iwan bertekad untuk rajin belajar meraih
mimpi-mimpinya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas hingga
bekerja dalam sebuah perusahan besar di New York dengan posisi salah satu pucuk
pimpinan. Tetapi kesuksesan itu tak membuatnya terlena di Amerika itu, pada
kahirnya ia tetap kembali ke tanah kelahirannya, Batu. Di sana ia menyatu
dengan keluarga dan membahagiakan kedua orang tuanya. (JAMRIN AB)
Sabtu, 31 Agustus 2013
Debat Kandidat Bupati-Wakil Bupati Donggala: TIDAK SEMUA SIAP TINGGAL DI DONGGALA
Oleh: Jamrin Abubakar
Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Donggala dalam debat penajaman visi misi
DONGGALA-Tidak semua calon Bupati-Wakil Bupati
Donggala menyatakan kesiapan tinggal di Donggala bila terpilih sebagai bupati
pada Pemilukada periode 2013-2018. Itu terbukti dalam debat kandidat penajaman
visi misi yang berlangsung di DPRD Donggala, Sabtu (31 Agustus 2013) lalu, hanya sebagian kandidat
yang secara tegas akan tinggal di Donggala. Padahal isu tersebut telah lama mengemuka
dalam masyarakat Donggala agar bupati dan pegawai tinggal di Donggala guna
menghidupkan perekonomian, bukan tinggal di Kota Palu.
Di
antara pasangan calon bupati-wakil bupati yang menyatakan kesiapan tinggal di
Donggala sebagai ibukota kabupaten yaitu Irham T. Maskura-Alfred Kabo (Nomor
Urut 1), Kasman Lasa-Vera E. Laruni (Nomor Urut 4) dan Akris Fattah
Yunus-Maulidin Labalo (Nomor Urut 6). Sedang lainnya tidak begitu tegas
menyatakan kesiapan tinggal di Donggala, seperti pasangan Burhanuddin
Lamadjido-Ta’rifin Masuara (Nomor urut 2) tidak begitu menjadikan isu menetap
di Donggala dalam perdebatan. Begitu pula Kasmuddin Haludin-Abubakar Aljufri (Nomor
urut 7) menyatakan soal pindah itu harus lebih dahulu disiapkan
inprastrukturnya dan pemindahan pegawai akan dilakukan secara bertahap, jangan
langsung disuruh pindah sementara rumah belum ada. Jadi harus didorong dulu
pembangunan sebagai kebijakan manusiawi.
Tetapi
ketidakhadiran calon bupati Anita Bugiswati Nurdin (Nomor urut 8) dalam debat
kandidat, maka masyarakat semakin sulit mendapatkan penyataan tentang akan siap
menetap atau tidak di Donggala bila terpilih jadi bupati. “Ketidakhadiran calon
bupati karena sesuatu dan lain hal,” kata Abdul Chair Mahmud sebagai pasangan
Anita B. Nurdin. Cuma saja tidak menjelaskan secara rinci ketidakhadiran calon
bupati, namun demikian sejumlah pertanyaan dijawab Abdul Chair secara spontan sekaligus
mengungkapkan tentang visinya. Selain itu yang tidak hadir adalah Vera Laruni
wakil bupati pendamping Kasman Lasa dengan alasan sakit. Namun demikian secara
tegas Kasman menyatakan kalau terpilih akan tinggal di Donggala sebagai bentuk
komitmennya agar lebih dekat dengan rakyat. Termasuk seluruh pegawai negeri
sipil yang bekerja di Donggala tidak boleh lagi tinggal di Kota Palu, tapi
harus berada di Donggala siapapun dia tanpa terkecuali.
Begitu
pula pasangan Akris Fattah Yunus-Maulidin Labalo menyatakan siap tinggal di
Donggala. “Insya Allah, kalau saja pada hari ini dilantik sebagai bupati
terpilih, maka langsung tinggal di Donggala, begitu pula dengan kepala SKPD
akan tinggal di Donggala dan akan memudahkan koordinasi dan evaluasi,” kata
Akris. Pasangan Burhanuddin Yado-Idham Pagaluma (Nomor urut 3) yang gencar dilontarkan selain pendidikan
gratis, adalah soal kecaman penggunaan dana untuk mengakut pegawai dari Palu ke
Donggala yang selama ini berlangsung. Menurutnya, dana itu sebaiknya digunakan
untuk dana pendidikan gratis, termasuki kuliah gratis dan akan melakukan
program dakwah dan sadakah untuk kesejahteraan rakyat. Pengalihan dana angkutan
itu, maka pengawai tidak boleh lagi tinggal di Palu, tapi harus di Donggala.
Sementara pasangan Asgar Ali Djuhaepa-Mohammad Fajar (Nomor Urut 5) dalam debat
tersebut selain mendukung pemekaran juga secara tegas memperjuangkan kejayaan
kembali pelabuhan Donggala seperti masa lalu.
Sedangkap
pasangan Irham T. Maskuran-Alfred Kabo yang cukup ditonjolkan adalah masalah
pemekaran Kabupaten Donggala yang mendesak. “Pemekaran adalah harga mati harus
dilakukan, tapi kabupaten induk harus kuat dan mandiri lebih dulu dengan
menyiapkan PAD yang lebih tinggi,” tegas Alfred Kabo. Perlunya pemakaran itu
untuk mempercepat dan mendekatkan pelayanan publik yang lebih baik.
Dalam
debat kandidat tersebut dipandu Tasrif Siara (jurnalis) dengan tiga panelis (Moh.
Akbar (akademisi), Abdullah Iskandar (akademisi) dan Adha Nadjamuddin
(jurnalis). Selain mereka mengajukan pertanyaan pada delapan pasangan, juga
masing-masing kandidat saling melontarkan pertanyaan. Sekaligus saling sanggah
terhadap jawaban satu dengan lainnya dengan beragam persoalan yang mengemuka
terutama masalah peningkatan perekonomian, mengenai tingginya pengangguran,
masalah pendidikan, sumber daya manusia, masalah korupsi, industri,
pengembangan pelabuhan dan beragam lainnya.
Debat
kandidat selama tiga jam lebih itu disiarkan langsung RRI Palu, Radio Suara
Donggala dan TVRI Sulteng. Tetapi sayang justru siaran TVRI tidak bisa
disaksikan masyarakat Donggala terutama di ibu kota kabupaten atau di Kecamatan
Banawa wilayah terbanyak pemilih. Penyebabnya, selama ini siaran yang dapat
diakses di Donggala adalah TVRI Pusat, bukan TVRI Sulteng. Justru yang menyaksikan
debat kandidat lewat siaran TVRI adalah warga Kota Palu yang nota bene bukan
penduduk yang memilih pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Donggala. (JAMRIN AB)
Rabu, 06 Februari 2013
Donggala Hanya Andalkan Bahari
DONGGALA-Berdasarkan data yang dimiliki Dinas
kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Donggala, jumlah wisatawan
mancanegara tahun 2011 lalu mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Yaitu hanya berkisar 96 orang, sedangkan dibading tahun 2010 pada periode yang
sama yaitu sebanyak 184 orang.
Menurut
Kepala Bidang Pengembangan Promosi Wisata Disbudpar Donggala, Abdul Razak yang
ditemui, Senin (15/10), penurunan tersebut sebetulnya bukan hanya pada wilayah
Donggala melainkan juga beberapa daerah lain. Penyebabnya bukan karena
ketidaktertarikan wisatawan untuk datang, melainkan kemungkinan rute pesawat
udara yang datang ke Sulteng pada saat kunjungan wisatanya selesai di daerah
lain semisal Kalimantan, sedang tak ada penerbangan. Kadang pula sisa waktu
yang agak sempit kadang membuat turis mancanegara tak jadi datang ke Donggala,
karena kehadirannya bukan sasaran, melainkan limpahan dari daerah lainnya.
Apakah
kemungkinan kembali mengalami penurunan tahun 2012 ini? Menurur Abdul Razak,
sampai saat ini pihaknya belum memiliki data konkrit karena memang
penghitungannya dilakukan dalam satu tahun untuk mengetahui jumlah kunjungan
wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Soal jumah wisatawan mancanegara,
Razak memperkirakan kemungkinan ada kenaikan melihat beberapa waktu lalu ada
banyak turis yang berkunjung ke kawasan Tanjung Karang. “Tetapi itu baru
semacam perkiraan saya, belum melakukan penghitungan pasti karena itu ada ada
pendataan secara langsung dari cottage ke cottage nantinya,” jelas Abdul
Razxak.
Pengembangan
industri pariwisata di Kabupaten Donggala selama ini ternyata masih
mengandalkan obyek wisata alam atau bahari ketimbang obyek budaya. Hal itu terungkap
sesuai data-data obyek wisata yang telah diinventarisasi Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata yang menyebutkan hingga tahun 2012 ini terdapat 36 jenis potensi
wisata di Donggala.
“Kawasan
destinasi wisata di Kabupatren Donggala selama ini yang berkembang memang masih
wisata alam, karena sesuai potensi alam kita memungkinkan hal itu,” tegas
Kepala Bidang Perencsanaan Induk Pengembanganb Pariwisata Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Donggala, Nawir Mansur, Senin (15/10).
Cuma
saja di satu sisi potensi besar itu belum semua terkelola secara maksimal
sebagaimana diharapkan. Kendalannya inprastruktur yang belum terbenahi,
sehingga Disbudpar saat ini kata Nawir Mansur, masih sedang melakukan
koordinasi bersama dinas terkait, seperti soal jalan berkoordinasi dengan
Dinbas Pekerjaan Umum. Sebab ada sejumlah obyek wisata di Kabupaten Donggala
kesulitan akses karena jalan belum baik. Namun demikian, kata pihaknya terus
pula mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan pengelolaans ecara
mandiri, selain itu diharapkan kehadiran investror dari luar.
Sebetulnya
beberapa obyek wisata seperti Pusentasi dan Bonebula di Kecamatan Banawah
Tengah pernah ada pihak investor yang mau mengelola kawasan itu, namun
belakangan tidak berlanjut. Selain itu tidak ada lagi penjelasan dari calon
investor apa yang menjadi kendala, tetapi diduga soal inprastruktur jalan yang
masih kurang. Karena itu pula, menurut Nawir Mansur, tahun 2013 mendatang
Pemkab Donggala akan memperbaiki jalur jalan berupa dua jalur menuju obyek
wisata Pusentasi di Banawa Selatan. Selama ini jalur jalan yang ada terbilang
sempit, sehingga pengunbjung yang datang dibanding Tanjung Karang masih
sedikit.
“Karena
itu pula dalam pengembangan wisata ini pihak Disbudpar juga mengimbau agar
masyarakat ikut berpartisipasi, seperti menjaga lingkungan tetap bersih, ramah
terhadap wisatawan yanfg dating dan dapat menumb uhkan hasil kerajinan yang
menjadi souvenir,” harap Nawir.
Sementara
itu Kepala Bidang Pengembangan Promosi Wisata Disbudpar Donggala, Abdul Razak yang
ditemui terpisah, Senin (15/10) menjelaskan dalam meningkatkan kunjungan
wisatawan ke Kabupaten Donggala, pihaknya terus mengikuti berbagai event guna
memperkenalkan kawasan destinasi wisata yang ada, sekaligus mempromosikan. Cuma
saja Abdul Razak mengakui kalau selama ini media promosi yang dimiliki masih
terbatas berupa brosur-brosur dan mengikuti pameran dalam beberapa event
seperti ke FDP dan PRJ (Pekan Raya Jakarta).
“Pendanaan selama ini dalam promosi wisata kita memang
masih sangat trerbtas, belum pernah dalam pengajuan itu mendapat respon sesuai
apa yang diajukan. Karena itu dalam melakukan promosi disesuaikan dengan jumlah
dana yang ada, demi tetap eksisnya bagian promosi.
Selama
ini dari 36 destinasi obyek wisata di Kabupaten Donggala hanya Tanjung Karang
yang menjadi andalan dan paling banyak dikunjungi dibanding kawasan lainnya.
Terutama untuk wisatawan mancanegara mesti kawasan yang dkunjungi itu punya
fasilitas. (JAMRIN AB)
Taman Kota Donggala Difungsikan
DONGGALA-Pembangunan
taman kota Donggala di bekas Pasar Malonda, akhirnya rampung. Sejumlah tumbuhan
palem, pohon pelindung, bunga-bunga dan rumput dalam petak-petakan tumbuh
subur, sehingga betul-betul menambah kesejukan di tengah kota. Bahkan setiap
pagi dan sore telah menjadi salah satu tujuan warga untuk jalan-jalan atau sekedar bersantai, terutama
menjadi tempat anak-anak bermain.
Menurut
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Donggala, Akris Fattah Yunus, pembangunan
taman kota ini selesai sesuai target dengan pembangunan dua tahap. “Ini menjadi
kebanggaan kota Donggala dapat dijadikan ruang public yang cukup sejuk dan
indah, karena itu kami sangat mengharapkan warga merasa memiliki dan ikut
memelihara dari segala gangguan,” kata Akris belum lama ini
Menurut
Akris pembangunan taman ini memang sudah rampung, cuma saja sedikit ada kendala
berupa belum adanya bangunan pagar pembatas agar hewan tidak masuk. Karena itu
dalam waktu dekat ini akan dibuatkan pagar besi sekeliling taman yang tingginya
sekitar setengah meter agar terlihat eksotis seperti pagar di taman bermain di
Kelurahan Kabonga Kecil.
Sebelum
rampungnya pembangunan taman kota, sempat menjadi bahan sorotan di DPRD
Donggala karena pengerjaannya lambat, tak seiring dengan pemindahan pedagang
dari tempat tersebut ke pasar Kelurahan Ganti. Pengerjaan taman dimulai sejak
November 2011 lalu seluas 0,4 ha terletak dalam wilayah Kelurahan Boya,
Kecamatan Banawa yang diharapkan menjadi
ruang publik, sehingga sejak sosialisasi pembangunan cukup mendapat sambutan
warga.
Di
di dalam taman terdapat tempat permainan anak-anak, jalur sepeda santai,
bangunan tugu air mancur, tempat wisata kuliner serta dilengkapi fasilitas MCK
dan beberapa bangunan untuk jualan makanan. Biaya yang digunakan sekitar Rp 3
milyar dengan dua kali tahap pencairan sesuai tahapan.(JAMRIN AB)
Pemilukada Donggala Pemkab dan KPU Sepakati Tahapan
DONGGALA-Pemerintah
Kabupaten Donggala dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Donggala melakukan
kesepahaman untuk penetapan jadwal pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada)
Donggala 2013. Kesepahaman tersebut berlangsung di Kantor KPU Donggala, Rabu
(6/2) yang dihadiri Wakil Bupati Donggala, Aly Lasamaulu, Wakil Ketua DPRD
Donggala, Namrud Mado, Panwaslukada dan SKPD terkait.
Dalam
rapat koordinasi tersebut, Ketua KPU Donggala, Mahfud Masuara dan anggota KPU
Provinsi Sulteng, Patricia Lamarauna menjelaskan tentang dipercepatnya tahapan
Pemilukada. Sebab merupakan hasil konsultasi dengan KPU Pusat yang kemudian
dikoordinasikan dengan pemkab agar menghasilkan persepsi yang sama. Begitu pula
tentang mekanisme soal laporan pertanggungjawaban bupati sebelum masa
pendaftaran calon kepala daerah dimulai, menjadi pokok pembahasan. “Seharusnya
bila sesuai jadwal yang normalnya itu tahapan baru dimulai bulan Maret dan
pemungutan suara bulan November. Tetapi sebagai antisipasi jangan sampai
menyeberang tahun 2014, maka pemungutan suara Pemilukada pada awal Oktober,”
jelas Mahfud.
Wakil
Ketua DPRD Donggala, Namrud Mado menyatakan sepaham soal jadwal tahapan yang
telah diajukan KPU, sehingga diharapkan segera memplenokan jadwal yang telah
disusun. Apalagi soal anggaran yang telah diajukan tidak ada lagi masalah,
sehingga harus melaksanakan sesuai yang direncanakan. “Pastinya kami apresiasi
rapat koordinasi ini, sehingga akan disamnpaikan secepatnya ke pada ketua DPRD
Donggala tentang kesepahaman ini,” kata Namrud Mado.
Penegasan serupa juga diungkapkan Wakil Bupati
Donggala, Aly Lasamaulu agar tidak perlu dipermasalahkan apakah bupati bakal
maju lagi atau tidak dalam Pemilukada tahun ini. Tetapi bagaimana DPRD dan KPU
sebaiknya segera menyurat menyampaikan soal tebtang tahapan agar dilakukan
penyampaian laporan pertanggungjawaban ke DPRD sebelum masa pendaftaran
pemilukada. “Sebab ini menyangkut politik selalu berubah setiap detik, sehingga
tidak bisa diterka,” kata Aly.
Karena
itu pula Patricia Lamarauna secara tegas mengharapkan hasil kesepahaman ini
ditindaklanjuti secepatnya, agar semua tahapan berjalan betul-betul sesuai yang
direncanakan. Sebab jangan sampai pelaksanaan Pemilukada Donggala tidak mepet
yang secara kebetulan bersamaan masa tahapan Pemilu legislative 2014 yang saat
ini juga sudah berjalan. (JAMRIN AB)
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)